JAKARTA, Dailynusantara.net — Pemerintah Republik Indonesia memastikan ketersediaan cadangan bahan bakar minyak (BBM) nasional berada dalam kondisi aman di tengah situasi dinamika geopolitik global. Kepastian tersebut disampaikan langsung oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, usai mengikuti Sidang Paripurna Dewan Energi Nasional (DEN) pertama tahun 2026 yang dipimpin oleh Presiden Prabowo Subianto dan dihadiri Wakil Presiden di Istana Merdeka, Jakarta.
Menteri ESDM menjelaskan bahwa cadangan BBM nasional saat ini bertahan di kisaran 18 hingga 20 hari. Kondisi ini dinilai cukup tangguh untuk menjaga stabilitas pasokan energi dalam negeri. Menghadapi tantangan energi jangka panjang, Presiden Prabowo menginstruksikan Kementerian ESDM untuk mengakselerasi pengembangan bahan bakar ramah lingkungan berbasis etanol (E20 dan E50), mengacu pada keberhasilan implementasi program biodiesel B50 yang berhasil menekan angka impor solar.
Pengembangan energi terbarukan ini ditujukan untuk memenuhi kebutuhan BBM nasional yang mencapai 39 juta kiloliter per tahun, baik untuk jenis solar maupun bensin. Selain fokus pada transisi energi nabati, pemerintah juga menyiapkan strategi pendorong produksi minyak dan gas bumi melalui eksplorasi masif pada cekungan blok migas baru serta optimalisasi sumur-sumur tua dengan intervensi teknologi terkini.
Langkah penguatan sektor migas turut menyasar tata kelola sekitar 45.000 sumur rakyat di seluruh Indonesia agar dikelola secara profesional. Di sisi kelembagaan, pembentukan Badan Usaha Khusus (BUK) dalam RUU Migas nantinya akan ditempatkan langsung di bawah kewenangan Presiden. Kebijakan ini dirancang demi menyederhanakan regulasi serta mempercepat proses perizinan lintas sektor guna menggenjot angka lifting migas nasional.
Mengenai pemenuhan kebutuhan minyak mentah (crude oil), pemerintah akan terus mengedepankan kalkulasi ekonomi yang matang agar tidak membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) maupun daya beli masyarakat. Pembelian pasokan energi dari luar negeri akan diprioritaskan pada opsi yang paling efisien dan kompetitif di pasar global.
Menutup keterangannya, Bahlil menegaskan komitmen pemerintah dalam menjaga kecukupan BBM bersubsidi agar tepat sasaran. Ia juga mengimbau kesadaran kelompok masyarakat mampu dan pemilik kendaraan mewah agar tidak mengonsumsi BBM subsidi, sehingga alokasi bantuan energi tersebut benar-benar dirasakan oleh masyarakat yang membutuhkan.
